Sabtu, 01 Maret 2014

DC SYOK (KARDIOVERSI DAN DEFIBRILASI VENTRIKEL)


Defenisi:
Suatu cara memberikan renjatan arus listrik langsung ke jantung lewat sepasang elektroda yang diletakkan pada dinding toraks untuk menghentikan takikardia ventricular dan supraventrikuler.
§  Pemberian renjatan sinkron gelombang R(Kompleks QRS).
§  Renjatan listrik mendepolarisasi sel pemacu jantung automatic dan sel miokardial serta menghilangkan atritmia.
§  Nodus sinoatrial, nodus atrioventrikular dan system purkinje mengambil alih irama jantung.

Indikasi:
§  Kardioversi darurat,
1.    Takikardi supraventrikular, fluter atrial, dan fibrilasi atrial dengan hipotensi, hipoperfusi sistemik, gagal jantung kongestif, atau iskemia miokard.
2.    Takikardia ventrikel dengan nadi palpasi gagal berubah ke irama sinus dengan lidokain atau amiodaron.

§  Kardioversi elektif.
Kardioversi dilakukan elektif pada takikardia supraventrikuler, fluter atrial, dan fibrilasi atrial, yang gagal berubah ke irama sinus dengan digitalis, propranolol, adrofonium, fenilefrin, kuinidin, atau verapanil.
Irama sinus lebih baik daripada aritmia karena curah jantung lebih banyak dan lebih rendah angka embolisme.
§  Kontraindikasi:
1.    Intoksikasi digitalis.
Fibrilasi ventrikel dapat terjadi walaupun dilakukan kardioversi sinkron, Stimulasi cepat atrium dengan pemacu temporer(TPM) dapat merubah atritmia supraventrikular.
2.    Penyakit sistem konduksi. Blok atrioventrikular dipasang profilaktik Temporer Pace Maker (TPM).
3.    Pasien dengan tidak mampu bertahan pada irama sinus.
4.    Fibrilasi atrial yang telah lama atu bertahun.
5.    Kardioversi dengan fibrilasi atrial cepat berulang, dengan dosis kuinidin profilaktik.
6.    Post operasi baru katup jantung, kardioversi ditunda 10-14 hari, TPM dapat menghentikan takiaritmia.



Evaluasi Pasien:
Evaluasi tentang hipertiroidisme, intake, digitalis, hipoksemia, stress psikologik, anemia, hipokalemia, hiperkalemia, hipokalsemia, hipomagnesemia, atau gangguan metabolic autonom lain yang menyebabkan aritmia.
Persiapan Pasien:
1.    Jelaskan prosedur secara penuh kepada pasien, termasuk komplikasi potensialnya dan dapatkan izin tertulis.
2.    Berikan antikoagulan profilaktik, dianjurkan pada pasien atrial fibrilasi dengan riwayat embolisme, stenosis mitral, gagal jantung kongestif, atau pembesaran atrium kiri.
3.    Hentikan digitalis, 24 jam sebelum kardioversi dan 48-72 jam pada pasien tua. Digoxin bekerja selama 2-5 hari.
4.    Berikan kuinidin(300 mg tiap 6 jam) selama 2 hari sebelum kardioversi, menurunkan 40% pemulihan ke irama sinus, tetapi kadang pencetus VT atau VF.
5.    Puasakan pasien 6 jam sebelum tindakan kardioversi.
6.    Rawat pasien dengan monitor EKG, untuk evaluasi irama dan evaluasi EKG 12 lead.
7.    Letakkan lempeng resusitasi jantung di bawah dada pasien.

Personalia:
Dokter atau perawat terampil kardioversi, anestesi dibutuhkan untuk penatalaksanaan intubasiendotrakeal.

Persiapan Alat:
1.      Kardioverter arus searah (DC) dengan monitor osiloskop, modus sinkronisasi tombol seleksi tingkat energi, pedal elektroda dan jelly elektroda.
2.      Obat sedasi: amnesia atau anastesi selama kardioversi dengan diazepam(valium), pentothal atau brevithal.
3.      Resusitasi: Lempeng dipunggung, section, oksigen, intubasi set(ETT, lavingoskope, guidel, jelly, spatel) ambubag dan obat atropine serta antiaritmia.

Penatalaksanaan Kardioversi.
1.      Letakkan pasien terlentang di atas lempeng resusitasi jantung.
2.      Pasang elektroda monitor EKG pada dada pasien.
3.      Nyalakan tombol kardioversi dan sinkronisasi.
4.      Singkirkan oksigen atau peralatan atau bahan yang mudah terbakar.
5.      Berikan obat sedative perlahan, pantau frekuensi jantung, respirasi dan tekanan darah.
6.      Berikan jelly pada pedal elektroda kardioversi, bantalan kasa larutan garam tidak dipakai karena menyebabkan lengkungan arus.
7.      Tipe kardioverter anteroapikal, elektroda pertama diletakkan di bawah klavikula kanan tepat lateral sternum dan elektroda kedua  diletakkan di bawah putting susu anterior aksilaris.
8.      Pilih tingkatan energi 100 joule.
9.      Pastikan tidak ada kontak operator, orang lain dan pasien terhadap bahan konduktor(logam, air, ventrikulator).
10. Berikan renjatan listrik bila sedasi pasien memadai dengan tekanan mantap 11,25 kg pada pedal elktroda.
11. Periksa nadi pasien, EKG, dan jalan napas segera setelah renjatan listrik kardioversi. Reaksi kardiovaskuler setelah renjatan listrik tampak vagal dengan bradikardia disusul takikardia 30 detik reaksi simpatis.
Aritmia ventrikel atau kelainan gelombang ST dapat menunjukkan kerusakan miokard akibat renjatan atau interaksi obat denga  renjatan listrik.
12. Bila renjatan gagal, tingkatkan dosis energi secara bertahap 100, 200, 300, 360 joules sampai aritmia dikonversi atau sampai 360mjoules gagal,
Biarkan 2 menit di antara renjatan listrik untuk supraventrikular takikardia, karena lambat berkonversi.

Asuhan Keperawatan Post Kardioversi.
1.      Lakukan pemeriksaan singkat, kaji komplikasi segera seperti hipotensi, embolisasi sistemik, edema paru, dan aspirasi.
2.      Periksa EKG 12 lead dan pantau irama EKG pasien selama beberapa jam.
3.      Pasien bedrest total.
4.      Lanjutkan obat antiaritmia maintenance amiodaron 450 mg/24 jam.

Komplikasi kardioversi.
1.      Luka baker kulit. Kontak elektroda tidak memadai atau renjatan berulang dapat timbul luka baker derajat I-II.
2.      Aritmia. Irama qtrioventrikuler, VES, VT dan VF dapat timbul setelah renjatan.
3.      Kerusakan otot jantung. Perubahan gelombang T dan ST terjadi sekitar 1% dan peningkatan CKMB sekitar 9% pasien.
4.      Pembesaran jantung.
5.      Edema paru. Diduga paralisis atrial kiri.
6.      Embolisasi sistemik, sekitar 0,8% lebih tinggi pada atrium kiri besar, stenosis mitral, CHF, atau emboli sebelumnya.
7.      Hipotensi. Singkat dan berakhir beberapa jam.
8.      Pneumonia aspirasi.


DEFIBRILASI VENTRIKEL,
Renjatan Arus Searah Transtorakal Tak-Sinkronisasi.

Defenisi:
Pemberian syok listrik atau searah pada thoraks untuk menghentikan fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel yang menyebabkan gangguan hemodinamik mengancam jiwa.

Indikasi:
1.    Fibrilasi ventrikel.
2.    Takikardia ventrikel tanpa nadi arteri tepi terdeteksi atau gagal sirkulasi(apnea atau kolaps).
3.    Kolaps mendadak dengan kehilangan nadi. Diasumsikan 75% pasien dengan VF. Defibrilasi buta, memuaskan meskipun sebelum RJP jika diberikan kurang 30 detik sejak henti jantung. Jika VF sebelum masuk rumah sakit RJP harus dilakukan 4 menit dan defibrilasi diusahakan dalam 8 menit, 50% pasien dapat bertahan hidup.

Kontraindikasi:
Tidak ada indikasi absolute karena VF selalu menuju kematian dan defibrilasi VT atau VF jarang spontan.
1.    Keputusan membiarkan pasien meninggal, penderita penyakit kritis/tanpa harapan.
2.    Pasien sadar atau nadi arteri spontan teraba. Tidak peduli osiloskop atau EKG termonitor. Artefak pada elektroda longgar, tremor otot dan alat monitor bermasalah. Kecuali diperlukan kardioversi.
3.    Defibrilator malfungsi tak terawatt dengan isolasi/kawat terbuka, elektroda pedal bengkok, pegangan elektroda retak. RJP diteruskan sampai peralatan elefibrilator aman bagi operator dan pasien.
Persiapan Alat:
1.    Defibrilator kardiak.
2.    Bahan konduksi listrik seperti jelly elektroda.
3.    Peralatan pemantau irama EKG(elektroda pedal dan monitor osiloskop)

Penatalaksanaan Defibrilasi:
1.    Sambil anggota tim resusitasi lain RJP, operator defibrilasi malakukan:
a.     Putar atau pindahkan tombol ke posisi ON.
b.    Atur tingkatan energi 200 joule untuk pasien dewasa.
2.    Berikan jelly konduktif pada pedal elektroda.
3.    Letakkan pedal elektroda pada pasien.
Tekan mantap 11,25 kg pedal pertama di atas sternum kanan, di bawah klivikula kanan. Elektroda pedal kedua di kiri apeks kordis.
4.    Pastikan tidak ada orang lain menyentuh pasien atau logam konduktor atau ventilator.
5.    Tekan tombol untuk mengisi kapasitor dan tekan tombol elektroda pedal secara serentak untuk melepas syok listrik.
6.    Segera seorang anggota tim resusitasi meraba nadi arteri dan pantau irama EKG, bila nadi tidak teraba ulangi RJP.
7.    Bila irama sinus dan kembali VF, syok energi sama diberikan dalam 5-15 detik.
8.    Energi DC syok 200,300 dan 360 joules, tidak defibrilasi lakukan:
a.     Teruskan RJP di antara DC syok.
b.    Koreksi asidosis atau alkalosis dan rasio ion abnormal (Ka, Ca, Mg, Na).
c.     Pastikan ventilasi paru memadai, periksa gas darah secara serial.
d.    Berikan epinefrin IV(0,5 mg) dan/atau CaCl2 (5 ml larutan 10%) (1 g/10 ml), bila terdapat VF halus atau asistol monitor EKG. MgSO4 dapat mempercepat defibrilasi VF dan memungkinkan defibrilasi efektif.
e.     Periksa fungsi defibrilator. Kegagalan output sering dan kedutan otot tidak menunjukkan aliran DC syok adekuat lewat dinding toraks dan jantung. Pertimbangkan memakai alat defibrilator lain sambil RJP.

Asuhan Keperawatan Pasien Defibrilasi.
Pasien defibrilasi VF atau VT memerlukan pemantauan EKG seksama, persiapan kontrol aritmia dan mencegah VF berulang, dan penatalaksanaan penyakit dan kondisi patofisiologi yang mendasari keadaan pasien:
1.    Pasien indikasi rawat intensif.
2.    Lakukan pemeriksaan fisik, kaji komplikasi resusitasi, seperti fraktur iga, pneumotoraks, atau rupture hati atau limpa.
3.    Lakukan ronsen thoraks dan EKG 12 lead.
4.    Secara khusus pantau:
a.     Tekanan darah, nadi dan pernapasan.
b.    Irama jantung lima kali atau lebih/menit, dan jenis(kuplet, multifokal, begemini, fenomenon R atau T) dari VES, episode singkat VT, dan VT menetap. Terapi antiaritmia penting untuk mencegah rekurensi VF.
c.     Fungsi serebral(integratif lebih tinggi).
d.    Gas darah arteri. Asidosis dan alkalosis predisposisi refibrilasi.
e.     Elektrolit dan fungsi ginjal.
f.      Pantau hemodinamik secara akurat.



Komplikasi:
Sekuele RJP dan defibrilasi cukup banyak disebabkan oleh vudapaksa mekanis dan listrik. Petugas terlatih pertolongan hidup dasar dan lanjutan, komplikasi harus dapat diabaikan:
1.      Fraktur iga.
2.      Flail chest.
3.      Pneumotoraks, hemothoraks, atau pneumomediastinum.
4.      Tamponade perikardial.
5.      Luka baker atau kontusio miokard.
6.      Pneumoni aspirasi.

7.      Edema paru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar